Blogger Backgrounds

Selasa, 26 April 2011

Perkembangan PDRB per Kapita Atas Dasar Harga Konstan 2000 Seluruh Provinsi di Indonesia Sejak Tahun 2005 hingga Tahun 2009

Pembangunan suatu daerah dapat berhasil dengan baik jika didukung oleh perencanaan yang mantap sebagai dasar penentuan strategi, pengambilan keputusan dan evaluasi hasil-hasil pembangunan. Dalam menyusun rencana pembangunan yang baik, tentunya dibutuhkan data statistik yang memuat informasi tentang kondisi riil suatu daerah pada tahun tertentu, sehingga kebijakan dan strategi yang telah atau akan dilaksanakan dapat dimonitor dan dievaluasi dengan baik. Salah satu indikator ekonomi makro yang biasa digunakan untuk mengevaluasi hasil-hasil pembangunan di suatu daerah dalam lingkup kabupaten/kota adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). PDRB merupakan jumlah nilai tambah barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha pada suatu daerah dalam satu tahun tertentu. PDRB per kapita dapat digunakan sebagai gambaran rata-rata pendapatan yang dihasilkan oleh setiap penduduk selama satu tahun di suatu wilayah atau daerah. PDRB per kapita diperoleh dari hasil pembagian antara PDRB dengan jumlah penduduk. PDRB dapat dihitung berdasarkan harga berlaku dan harga konstan.
  • PDRB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada tahun tersebut.
  • PDRB atas dasar harga konstan, yaitu nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada tahun dasar yang telah ditentukan.
Pada artikel ini, saya menggunakan data statistik PDRB per kapita berdasarkan harga konstan. Perhitungan PDRB per kapita atas dasar harga konstan dapat digunakan untuk mengukur perubahan volume produksi dan perkembangan produktivitas secara nyata, sebab tidak ada lagi faktor pengaruh perubahan harga. Lain halnya dengan PDRB per kapita yang disajikan atas dasar harga berlaku yang masih mengandung perubahan harga barang dan jasa dari tahun ke tahun. PDRB per kapita atas dasar harga konstan juga dapat dipakai sebagai indikator untuk menggambarkan perubahan tingkat kemakmuran suatu daerah dari tahun ke tahun. Untuk perencanaan dan proyeksi pada masa mendatang juga selalu bertitik tolak dari perhitungan PDRB atas dasar harga konstan.

Berdasarkan data yang saya dapat dari website BPS mengenai "PDRB per Kapita Atas Dasar Harga Konstan 2000, Menurut Provinsi, 2005-2009", Provinsi DKI Jakarta memiliki PDRB per kapita terbesar dibandingkan 32 provinsi lainnya di Indonesia selama lima tahun berturut-turut sejak tahun 2005 hingga tahun 2009. Berikut ini adalah besarnya PDRB per kapita Provinsi DKI Jakarta pada masing-masing tahun : 2005 (32.205 ribu rupiah), 2006 (34.837 ribu rupiah), 2007 (36.773 ribu rupiah), 2008* (36.671 ribu rupiah), 2009** (40.269 ribu rupiah). Sedangkan provinsi yang memiliki PDRB tertinggi kedua adalah Provinsi Kalimantan Timur. Masing-masing PDRB per kapita provinsi ini yaitu : 2005 (32.537 ribu rupiah), 2006 (32.689 ribu rupiah), 2007 (32.527 ribu rupiah), 2008* (33.316 ribu rupiah), 2009** (33.333 ribu rupiah). Provinsi ini sempat mengalami penurunan PDRB per kapita, yaitu pada tahun 2007. Namun pada tahun 2008, provinsi ini dapat kembali meningkatkan PDRB per kapitanya.

Provinsi yang memiliki PDRB per kapita terbesar ketiga selama lima tahun berturut-turut adalah Kep. Riau. Adapun PDRB per kapita provinsi ini lima tahun berturut-turut yaitu : 2005 (23.756 ribu rupiah), 2006 (24.304 ribu rupiah), 2007 (24.992 ribu rupiah), 2008* (25.478 ribu rupiah), 2009** (25.291 ribu rupiah). Sama halnya dengan Provinsi Kalimantan Timur, provinsi ini juga sempat mengalami penurunan PDRB per kapita, yaitu pada tahun 2009. Padahal selama 4 tahun berturut-turut provinsi ini dapat meningkatkan PDRB per kapitanya. Di lain pihak, provinsi yang memiliki PDRB terendah dibandingkan 32 provinsi di Indonesia yaitu Provinsi Gorontalo. Berikut ini adalah besarnya PDRB per kapita provinsi ini yaitu : 2005 (2.166 ribu rupiah), 2006 (2.294 ribu rupiah), 2007 (2.436 ribu rupiah), 2008* (2.593 ribu rupiah), 2009** (2.755 ribu rupiah). Selama tiga tahun berturut-turut, provinsi ini memiliki PDRB per kapita terendah. Namun pada dua tahun berikutnya provinsi ini tidak lagi menjadi provinsi yang memiliki PDRB per kapita terendah. Posisinya digantikan oleh Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Melihat perbandingan angka-angka PDRB per kapita pulau-pulau utama di Indonesia yaitu pulau Sumatera, Jawa, Jawa dan Bali, Kalimantan, Sulawesi dan lainnya (Maluku dan Papua), ada beberapa hal menarik yang bisa diungkapkan. Pertama, Pulau Kalimantan selama lima tahun berturut-turut menempati PDRB per kapita tertinggi di Indonesia dengan PDRB per kapita sebagai berikut : 2005 (12.699 ribu rupiah), 2006 (12.949 ribu rupiah), 2007 (13.171 ribu rupiah), 2008* (13.625 ribu rupiah), 2009** (13.957 ribu rupiah). PDRB per kapita pulau ini selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya sejak tahun 2005 hingga tahun 2009. Kedua, pulau lainnya (Maluku dan Papua) selalu berada di posisi terendah dalam jumlah PDRB per kapita lima tahun berturut-turut. PDRB pulau ini berfluktuasi dari tahun ke tahun. Masing-masing besar PDRB pulau ini yaitu : 2005 (4.389 ribu rupiah), 2006 (4.136 ribu rupiah), 2007 (4.267 ribu rupiah), 2008* (4.303 ribu rupiah), 2009** (4.695 ribu rupiah). Pada tahun 2006, pulau ini sempat mengalami penurunan PDRB per kapita. Namun pada tiga tahun berikutnya pulau ini mampu meningkatkan PDRB per kapitanya lagi.

Ketiga, untuk pulau Sumatera, PDRB per kapitanya berada di posisi tertinggi kedua pada tahun 2005 dan 2006. Sedangkan untuk tiga tahun berikutnya, PDRB pulau Sumatera berada pada posisi tertinggi ke empat dibandingkan lima pulau lainnya. Keempat, pulau Jawa memiliki PDRB tertinggi ketiga pada tahun 2005 dan 2006. Namun pada tiga tahun berikutnya, pulau Jawa berhasil meningkatkan PDRB per kapitanya sehingga pulau ini menjadi pulau yang meiliki PDRB tertinggi kedua. Kelima, sama halnya dengan pulau Jawa, pulau Jawa dan Bali juga berhasil meningkatkan PDRB per kapitanya pada tahun 2007, 2008, dan 2009 sehingga bisa menempati posisi tertinggi ketiga. Sebelumnya pada tahun 2005 dan 2006, pulau ini merupakan pulau yang memiliki PDRB tertinggi keempat dari lima pulau-pulau utama lainnya. Di sisi lain, Pulau Sulawesi selalu berada pada posisi terendah kedua dibandingkan lima pulau lainnya di Indonesia.

Dengan demikian bila kita melihat seluruh PDRB per kapita masing-masing provinsi di Indonesia dapat disimpulkan bahwa PDRB per kapita masing-masing provinsi berfluktuasi tiap tahunnya. Adakalanya PDRB per kapita mengalami peningkatan dan adakalanya pula PDRB per kapita tiap provinsi di Indonesia mengalami penurunan. Namun pada dasarnya, besarnya PDRB per kapita dipengaruhi oleh hal-hal berikut seperti kekayaan yang berupa sumber-sumber ekonomi (kekayaan alam), jumlah penduduk dan kemampuan penduduk (SDM) dalam menerapkan teknik produksi atau mengolah kekayaan yang dimiliki daerahnya. Oleh karena faktor-faktor tersebut berbeda di setiap provinsi di Indonesia, maka perkembangan PDRB per kapitanya pun berbeda-beda pula.

Keterangan :
*) : angka sementara
**) : angka sangat sementara

Sumber :
Sukwiaty, Sudirman Jamal dan Slamet Sukamto. 2006. Ekonomi SMA Kelas X, halaman 141. Jakarta : Yudhistira.
http://www.tanjabbarkab.go.id/ekonomi/stru_eko4.htm, tanggal 26 April jam 12.17 WIB

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar